Selamat tinggal = Tidak akan bertemu lagi

Poster aslinya: ☆Zi Xuan〆 Tampilan: 97 Balasan: 3 Diposting di: 2012-08-09 17:34:59
Orang di hati hanyalah bayangan yang menjauh. Dalam tahun cahaya waktu yang dihapus, di balik kelupaan, siapa yang wajahnya menua. Banyak teman hilang tanpa jejak. Membuka kenangan yang disebut masa lalu, beberapa orang di dunia maya menghilang begitu saja, meninggalkan hanya kata-kata yang dingin. Hidup adalah milik sendiri, kata-kata adalah milik sendiri, memori adalah milik sendiri, waktu yang bisa disegel pun milik sendiri. Kata-kata itu pernah begitu akrab, perasaan yang tampak mirip itu pernah begitu hangat menyentuh hatiku, tersimpan dalam satu momen dalam ingatan dan indah. Merindukan adalah sebuah rasa. Mengenang adalah sebuah emosi. Internet yang keras, teman dunia maya yang datang dan pergi, ketika suatu hari aku memilih pergi, siapa yang masih akan mengingatku?

Seringkali, aku merasa diriku hanya seperti bunga dandelion yang sederhana, terbang tanpa tujuan saat angin datang, tidak bisa menemukan arah yang benar-benar milik sendiri. Banyak orang pergi tanpa perlu mengucapkan selamat tinggal, seperti remaja yang tak sengaja berakhir dalam perjalanan waktu.

Kata-kataku membuat pipiku dingin, menyebarkan kesedihan kepada siapa? Aku tidak tahu.

Beberapa orang, hadir atau tidak, bertemu atau tidak, sebenarnya sudah tidak lagi penting. Cerita berakhir dengan megah di waktu muda. Perasaanmu yang tulus, kepalsuanmu, akhirnya semuanya akan dipadatkan oleh roda waktu, menjadi abu. Wajah yang menua, menghapus sisa sinar matahari terakhir.

Tak ingin lagi menyebut seseorang, beberapa memori. Yang indah dalam hidup perlahan menjadi sepi hari demi hari. Di tengah hiruk-pikuk dunia, siapa yang masih akan mengingat senyuman siapa? Siapa yang masih akan mengingat kesedihan siapa? Saat jariku menari di atas keyboard, emosi telah menyatu dengan kata-kata. Aku sering menyukai perasaan ini, tenggelam di dalamnya. Sebenarnya, aku sangat mengerti, semua ini tidak ada hubungannya dengan siapapun. Jangan disamakan dengan diri sendiri.

Tidak ingin siapapun mengganggu hidupku yang tenang. Lawan dari cinta bukanlah kebencian, melainkan kelupaan, diam yang dingin. Keluar dari dunia yang sebenarnya bukan milik hidupku, aku telah memilih sabar. Belajar bersikap tenang, hingga melupakan. Yang indah hanyalah masa lalu. Air mata yang jatuh telah membeku menjadi ingatan awal. Rindu dan kenangan, mengalir di dalam kata-kata, hanyalah sebuah perasaan, sebuah ketenangan hati seperti air yang tenang.

Selamat tinggal, berarti tidak akan bertemu lagi. Semua yang indah dan sedih sudah tertangkap dalam jalur hidup masing-masing. Saling menatap, akhirnya hanya saling melupakan. Tidak bertemu lagi. Tidak saling mencintai lagi. Tidak saling terhubung lagi. Selamat tinggal, benar-benar tidak akan bertemu lagi.Jika tidak bisa mencintai dengan dalam, maka silakan lupakan dengan keras. Masa muda siapa akan menua dalam kisah siapa, seperti potret-potret yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Lupa wajah siapa, menua hati siapa.
PS: Sebenarnya saat menulis kata-kata ini hati sangat sakit. Aku mengerti ketidakikhlasanmu. Aku juga menyadari melihat ketidakikhlasanku sendiri. Hanya saja kita sudah belajar untuk berbalik, namun belum belajar benar-benar menjadi orang asing. Saat semuanya sudah menjadi masa lalu dan tiada lagi, tolong lupakan aku, pada malam ini.

Sebaiknya tidak bertemu, agar tidak jatuh cinta
Sebaiknya tidak saling mengenal, agar tidak rindu
Sebaiknya tidak menemani, agar tidak berhutang budi
Sebaiknya tidak saling menghargai, agar tidak terkenang
Sebaiknya tidak saling mencintai, agar tidak meninggalkan
Sebaiknya tidak saling berhadapan, agar tidak bertemu
Sebaiknya tidak saling salah, agar tidak mengecewakan
Sebaiknya tidak saling berjanji, agar tidak melanjutkan
membalas 🤍 0 📤 membagikan mengumpulkan
Jarum waktu panjang pendeknya tidak rata, hidup adalah cangkir di atas meja teh, rasanya tahan lama. Terkadang aku berpikir sudah waktunya melepaskan segalanya dan menjauh dari sini.
Suatu hari kita akan bertemu lagi, ku pikir begitu, ah
Hai....
— Semua balasan dimuat —

Tinggalkan Balasan