<Tulisan Indah><Tahun-tahun itu, masa muda ketika kita berlari bersama>
Beberapa hal terasa sia-sia, seperti masa muda, beberapa perasaan, sudah diberikan tetapi tidak bisa dimiliki, beberapa orang, sudah dipeluk, tetapi tidak bisa dipertahankan selamanya, waktu terlalu cepat, kita semua tumbuh dengan tersandung. Bagaimana melanjutkan, bagaimana melepaskan? Cinta di masa muda, sudah seperti korek api yang habis terbakar, terbaring tenang di sudut. Cinta di masa muda, sudah seperti catatan harian yang mengesankan, lembut merekam masa lalu. Cinta di masa muda, sudah seperti lagu yang sedih, berkabung merayakan yang pernah ada. Cinta di masa muda, sudah kita ceritakan berkali-kali, waktu akan meninggalkan bukti terbaik untuk kita, membuktikan kepolosan kita, maka semua itu sudah cukup. Aku mau percaya pada kehidupanmu berikutnya, kesetiaanmu satu sama lain, janji setia untuk selamanya, abadi seiring waktu, tetapi pada akhirnya kita tak bisa mencapai keabadian yang paling indah. Betapa menyesal, sayang. Perpisahan singkat, malah membuat hatiku gelisah, mengucapkan selamat tinggal tetapi mengira akan bertemu kembali di tempat lama. Ternyata, perpisahan di masa muda tidak tahan uji waktu, pada akhirnya kita akan semakin menjauh. Saat itu, kamu adalah satu-satunya bagiku, kehadiranmu memberi rasa aman yang cukup. Melihat wajahmu, aku punya banyak topik untuk dibicarakan, seperti anak kecil yang polos, bisa manja, bisa marah, mendapatkan kasih sayangmu, aku benar-benar beruntung. Sekarang... Melihat bintang, aku teringat itu adalah favoritmu, tetapi aku yang bilang mencintai bulan, sudah berubah... tapi kamu tidak mengerti. Kadang-kadang, aku tiba-tiba merindukanmu lama sekali, mungkin ini akan kamu tidak tahu seumur hidupmu, betapa pentingnya kamu di hatiku. Bagaimanapun, semua sudah berlalu, aku rasa kita akan tumbuh sesuai waktunya, setiap orang memiliki jalur hidupnya sendiri. Terima kasih atas pertemanan di masa lalu, terima kasih atas pengertian dan perhatianmu, selama itu membuktikan telah mencintai, menangis, sedih, lalu matahari bersinar lagi. Dalam ingatan tentangmu, ada hari mendung hujan, dalam ingatan tentangmu, ada aku saat tumbuh dewasa yang polos. Aku hanya ingat, di masa paling murni itu, dengan dalam seorang laki-laki terukir di tulang-tulangku, tanpa noda apapun. Aku ingin tahu, apakah ini orang pertama yang dicintai saat orang dewasa?Mengapa bisa begitu mendalam, sakit tapi tidak ingin melepaskannya, hanya ingin perlahan-lahan merelakan, perlahan-lahan membiarkan waktu berlalu, kau dan aku, masing-masing baik-baik saja. Tidak tahu apakah kau masih ingat, di dinding itu tertulis perang damai. Hujan telah mencuci kepolosan kita, membuat kita mengerti seiring berlalunya waktu, menghormati orang lain adalah menghormati diri sendiri, mencintai diri sendiri lebih daripada mencintai orang lain. Tidak tahu apakah kau masih ingat, aku yang berlari canggung di lapangan basket itu. Keringat menjadi saksi masa lalu kita, teman pun tidak selalu ada, tapi yang akhirnya membuat hati sakit adalah pergi tanpa salam perpisahan. Mungkin perasaan yang dalam selalu terluka oleh hati yang tak peduli. Berjanji pada diri sendiri, di masa depan menjadi wanita yang cerdas, tidak rendah diri, tidak angkuh, hangat bagi orang-orang yang pernah memberimu kebaikan. Tidak tahu apakah kau masih ingat, surat permintaan maaf yang pelit itu, itu adalah satu-satunya ingatanku. Kau membuatku tumbuh, perlahan merasa, tidak ada yang abadi. Banyak hal yang ketika dibicarakan kemudian berubah. Seperti janji kemarinmu, mungkin akan tinggal untuk orang yang akan muncul besok. Bukan berarti tidak bertanggung jawab, tapi tidak ada yang bisa menjadi milik siapa pun. Ingatan selalu begitu lembut membunuh, lalu bagaimana denganmu? Apakah sesekali kau teringat pada wanita yang pernah bodoh demi dirimu? Mungkin melupakan adalah yang terbaik, mungkin ini adalah awal yang paling baru. Aku tidak pernah melupakan. Karena kau adalah pria pertama yang hadir dalam hidupku.
Balasan (2)
Aku lagi-lagi-lagi-lagi-lagi-lagi-lagi mendukung…
Puncak, masih di toilet…
— Semua balasan dimuat —