《Rindu di Utara》 (Lirik untuk 'Seribu Mil Jauh')
Daun bambu seperti giok,\Awan putih seperti bunga,\Aku seperti mabuk karena tergila-gila.\Cerita mundur,\Alur telah layu,\Wajahmu sudah tak dikenali.\Kupu-kupu terlelap,\Kenangan kembali menyesal,\Masa lalu meninggalkan dendam.\Langit menjadi gelap pekat,\Jika kau tak kembali,\Dengan siapa aku terbang berdua?\Hati tertutup abu, lukisan ternodai,\Siapa yang mengotori siapa?\Kelemahan adalah julukan yang paling jujur,\Melepas terlalu banyak kepalsuan.\Aku memanggilmu kembali,\Utara kerinduan,\Kau tersedak dan menangis.\Danau yang dalam,\Menenggelamkan yang berharga,\Kemegahan terkubur dalam kesedihan.\Aku memanggilmu kembali,\Utara putus asa,\Apakah kau sedang mengejar?\Waktu tanpa rasa malu,\Musim semi dan gugur menemaniku,\Kaca berjatuhan, masih melayang.\Angin musim gugur datang lagi,\Menerbangkan rasa pahit,\Embun mapel menorehkan kehancuran.\Kau kembali terlambat,\Memukau seperti mawar,\Aku tersenyum sambil meneteskan air mata.\Membuka mata untuk mengusir mabuk,\Desa kecil diselimuti cahaya tersisa,\Angin biasa menebar lengan baju.\Menunggu terlalu lelah,\Gelombang hijau memantulkan keindahan,\Di tepi kolam Yao menjadi pasangan.\Hati tertutup abu, lukisan ternodai,\Siapa yang mengotori siapa?\Kelemahan adalah julukan yang paling jujur,\Melepas terlalu banyak kepalsuan.\Aku memanggilmu kembali,\Utara kerinduan,\Kau tersedak dan menangis.\Danau yang dalam,\Menenggelamkan yang berharga,\Kemegahan terkubur dalam kesedihan.\Aku memanggilmu kembali,\Utara putus asa,\Apakah kau sedang mengejar?\Waktu tanpa rasa malu,\Musim semi dan gugur menemaniku,\Kaca berjatuhan, masih melayang……
Balasan (3)
Diam-diam melewati
Lewat...
Lebih sehat di atas semuanya……
— Semua balasan dimuat —