Hujan lagi, saat ini akan teringat pada siapa?

Poster aslinya: Seperti air, tanpa jejak Tampilan: 259 Balasan: 3 Diposting di: 2013-05-04 22:28:29
Hujan turun, air hujan menimpa ambang jendela seperti suara napas kesepian. Berdiri di depan jendela, aku menggores nama yang hampir terlupakan namun sangat kukenal di atas kaca dengan jariku, 'Tearyu'… setiap kali menulisnya, hatiku sakit. Saat hujan, aku akan memikirkanmu… …kebahagiaan seperti udara di seberang kaca, saat mencoba meraihnya, malah bertabrakan hingga berdarah. Dunia ini menjadi terlalu besar, begitu besar hingga bahkan napas pun bisa berbohong. Kusampikan jendela, kota yang kotor ini menjadi segar, hujan menyaksikan kekotoran dan kesegaran kota ini. Air mata membasahi mataku, pandangan berubah dari jelas menjadi kabur, menengadah melihat langit, berusaha agar air mata tidak jatuh. Air hujan mengenai wajah, saat ini air mata sepenuhnya mengkhianati ketegaran. Rindu mulai berkembang saat air mata jatuh, meski berjanji tak akan memikirkanmu lagi, hati ternyata mengkhianati pikiran. …setelah bersamamu, segalanya dalam diriku mulai menjadi kontradiktif. Jarak hati, dinginnya perasaan, yang lebih menakutkan adalah tidak lagi ada rasa rindu. Dalam pikiran selalu muncul senyummu yang bersih, rasa sakit itu mulai memakan tubuh, perlahan-lahan meresap ke seluruh tubuh. Membuka pintu dan berlari ke hujan, berlari di hujan, air mengalir dari rambut ke wajah… Hujan membasahi seluruh tubuhku, aku seperti anak yang ditinggalkan. "Hehe", aku selalu menjadi orang yang ditinggalkan oleh seluruh dunia, tidak ada yang mau menemaniku seumur hidup ini. Kenangan keluar seperti banjir yang dibuka bendungannya, pernah ada yang mengatakan ingin menemaniku, merawatku seumur hidup, tapi malah pergi di persimpangan berikutnya. Berbalik dengan keras lalu pergi, yang tersisa hanyalah kerinduan tanpa akhir dan ingatan yang tak utuh, ternyata janji hanyalah janji yang tak mampu ditanggung. Kepalaku semakin berat, kaki akhirnya tak mampu menopang tubuh. Berjongkok di tanah, melihat orang berlalu-lalang. Aku hanyalah seorang pelintas, tak ada yang akan mengingatku, juga tak ada alasan bagi orang lain untuk mengingatku. Menyembunyikan kepala di pelukan, jariku menggambar lingkaran di lantai. Kamu adalah lingkaranku, tidak peduli bagaimana aku mencoba melarikan diri, aku tak bisa keluar dari lingkaran yang kamu gambar untukku. Kamu seperti racun, dan simpul ini tak bisa diurai. Saat membuka mata, semuanya muncul, kelembutan yang kamu berikan membuatku begitu tergila-gila. Bangkit, dalam dunia seorang diri memainkan drama cinta dan perhatian, tanpa penonton dan tepukan, juga tanpa dialog yang mengharukan, hanya air mata yang menyaksikan kemegahan akhir cerita.......
membalas 🤍 0 📤 membagikan mengumpulkan
⊙﹏⊙
Telur~ Telur~
Menjual bihun~~~
— Semua balasan dimuat —

Tinggalkan Balasan