Hal yang paling romantis yang bisa kubayangkan adalah, duduk di tepi Danau Bayangan Awan, menyaksikan matahari yang hampir terbenam -- catatan pembuka
Ya, tak ada yang bisa menghentikan keindahan matahari terbenam, meski awan sekalipun.
Berjalan santai melewati Jembatan Bayangan Awan, tanpa sengaja kulihat permukaan danau yang berkilau. Sinar matahari yang tidak terlalu menyilaukan itu memantul di permukaan air sesuai ombak yang bergerak. Potongan emas itu berkilau di permukaan gelombang, sungguh indah. Aku menatap matahari dari sisi wajah, seakan seorang anak menatap ibu yang penuh kasih, dan yang kurasakan adalah kehangatan.
Ya, ibu selalu begitu ramah dan mengasihi, bahkan dalam kerutan wajahnya.
Waktu ibarat panah, hidup ibarat alat tenun. Kehidupan akan mengubah wajah kita, hal-hal yang dulu kita anggap takkan berubah sudah lama berubah, bahkan kita menjadi orang yang dulu paling kita benci. Tapi kita tetap harus belajar menghadapi kenyataan, meski kita semua masih berada dalam mimpi. Mungkin kita akan hidup mati-matian di usia yang penuh mimpi, tapi tak pernah bisa menahan uang kertas yang satu demi satu, tak bisa menahan harapan dan larik kehidupan.
Ah, ah. Ah! Kapan kita bisa mempersiapkan diri untuk menunggangi bidang kehidupan, dan kapan kita bisa memetik bunga camellia di tebing yang tinggi.
Hidup masih baik, sebab senyum di alismu bersinar secerah mentari terbit. Saat berjalan di jalan dan menoleh, senyummu memesona dunia, senyumnya mempersingkat segala yang jauh. Di hadapan senyummu, seakan aku menghadap lautan, mata terbuka melihat musim semi yang hangat dan bunga mekar.
Hidup masih baik, sebab wajahmu yang tenang indah seperti senja ketika matahari terbenam. Kau berjalan diam-diam seperti halnya muncul diam-diam, melambaikan tangan lembut, tak membawa sehelai awan pun. Waktu mengalir di sela jari, rel kereta yang ditinggalkan di hutan sudah berkarat, kenangan selalu begitu mendalam, keindahan yang tenang itu membuat terpesona.
Hidup masih baik, sebab meski kau pergi, di sisiku masih ada dirimu. Aku duduk di kereta tanpa menoleh, kau berdiri di tempat itu, pandanganmu panik mengikuti keretaku ke kejauhan, berharap aku segera kembali; kau berjalan ke arah harapan, membawa ransel, menoleh dan memberiku senyuman, menanyakan kapan kita bisa bermain bola lagi; juga kau yang tak menoleh, terbang menuju Bintang Fajar, tanpa Athena, tanpa Roma, juga tanpa jalan yang kau lalui dulu.
Namun kehidupan tetap, tak mengubah niat awalnya yang seperti air, meski kita terus seperti jam yang bergerak, pada akhirnya kita kembali ke tempat awal.Pada senja hari, bayangan bulan beriak, daun-daun bergoyang, aku duduk di tribun gedung olahraga menonton satu per satu keceriaan pemuda di bawah panggung, melihat lampu-lampu yang kadang terang kadang redup dari jauh mendekat, dari sini ke sana. Hidup masih baik, indah dalam kesedihan, indah di menara Huanghe tempat ini.
Waktu berputar, ribuan kali silih berganti tidak mengalahkan satu keindahan di sini. Siapa yang suka menghirup sedikit melati di pagi hari, bersedia membaringkan diri karenanya; siapa yang suka meminum segelas anggur keruh di senja hari, berbicara dengan bulan sendirian; dan siapa yang tidak mengerti rasa perpisahan, naik ke menara tinggi sambil menghela napas melihat hujan tipis dan angin kencang; dan siapa yang melukis pemandangan tanah air yang berlumur darah, tidak sebanding dengan sejumput cinnabar di alismu.
Kau berkata: "Halaman yang dalam, sedalam apa, pohon willow menumpuk kabut, tirai tak terhitung jumlahnya."
Aku berkata: "Malam tadi angin barat meluluhkan pohon hijau, aku naik sendirian ke menara tinggi, menatap jalan hingga ke ujung dunia."
Hidup masih baik, bukan?
Hidup masih baik.
Hidup masih baik!
Esensi 【Hidup】Hidup masih baik【Wajah Lama_Seri Lama_Orang Lama】
Balasan (4)
。。。
Aku mendukungmu.
Lewat...
Heh, siapa kamu, pemilik postingan?
— Semua balasan dimuat —