Waktu, seperti cahaya! Menyinar melalui jendela ke ujung pakaianku.
Kereta, seperti cahaya! Membawa aku ke tempat yang sepi.
Pergi adalah sebuah pencarian! Mencari sebuah kemegahan yang belum dimiliki, seperti sebuah mimpi, mencari apa yang dicari, bangun dalam kesendirian sudah di ujung hidup!
Sinar matahari tertutup oleh daun yang lebat, berjalan di jalan sepanjang jalan, disertai sakit kepala yang terus-menerus, aku sudah tidak ingat berapa kali berjalan tanpa tujuan seperti ini, mungkin dengan kata lemas, seperti mayat yang berjalan, paling tepat untuk menggambarkan aku, aku memang seperti ini, di kota yang familiar ini aku tidak ingin bekerja, tidak ingin berbicara, yang aku ingin hanyalah tidur dengan tenang, tanpa dingin, tanpa panas.
Tiap malam insomnia membuatku baru bisa tidur di pagi hari, saat bangun selalu sudah lewat siang, dalam kesunyian sendiri menerpa angin, waktu terus bergerak naik dan turun!
Aku ingin bekerja, tapi cuma bisa lemah tak bertenaga, aku juga ingin menangis, tapi tempat untuk menangis pun tidak ada, melewati kemegahan dan keramaian, melihat tawa dan canda, aku tidak pernah merasakan bagaimana itu hidup!
Remaja! Seseorang bertanya di mana kebahagiaanmu? Aku berpikir lama dan berkata: Kebahagiaanku ada dalam mimpi!
Suatu kali memprediksi nasib, aku menanyakan titik kebebasanku di mana? Orang itu berkata tiga dan tujuh! Saat itu aku bertanya-tanya bagaimana bisa ada dua waktu, aku kira itu bulan Maret, hanya saja tidak menyangka itu adalah awal dari keputusasaan, bulan Juli aku tidak tahu apakah saat itu aku masih ada, jika ada! Di mana?
Hidupku tidak lebih dari sebuah penantian, orang-orang bersaing, di medan perang pedang telah ditarik, sedangkan aku tetap tenang menunggu!
Lewat di depan toko es krim pinggir jalan, pelayan berdiri di jalan sambil berteriak, aku menoleh, melihat pengunjung yang datang silih berganti, melihat wajah pelayan yang tidak berubah senyumannya, berdiri di sana bingung, kemudian mendengar tawa orang lalu lalang, seolah menertawai aku, menertawai kebodohanku, menertawai mata nafsuku! Angin meniup rambutku, tiba-tiba merasa kesedihan yang mendalam, kesedihan ada di hati setiap orang, semakin dalam, teringat saat besok akan berlalu, kesedihan dan penyesalan hanya ada dalam hati sendiri, orang lain tidak bisa melihat, diri sendiri pun tidak terpikirkan!
Kemudian berjalan tenang membeli segelas cola!Sambil meminum cola, aku menengadah melihat sinar matahari keemasan, cahaya di dalam hati seolah tercermin di permukaan air yang tak berujung, tetapi di mataku terlihat seperti jatuh di atas cermin tembaga yang memancarkan kebingungan. Berdiri di bawah sinar matahari, aku tiba-tiba tidak tahu harus ke mana. Entah mengapa aku merasa aku tidak memiliki apa pun, tidak ada satu tempat pun untuk berlabuh! Mungkin aku tahu alasannya! Hanya demi segala yang ada di hati, aku memilih untuk tidak tahu!
Jalan hidup selalu memiliki terlalu banyak ikatan tak kasat mata, aku tidak ingin menjadi boneka yang dikendalikan, selain hati yang hanya bisa berjuang dan meloncat, sebetulnya bukanlah hidup seperti boneka. Jalan kebebasan mungkin butuh bertahun-tahun untuk dipertahankan, tetapi siapa yang sanggup menanggung kesepian dan keteguhan ini, seperti menjadi seorang mata-mata dalam hidup, atau mati sendirian tanpa ada yang tahu, atau hingga akhir, hasilnya hanyalah hasil seorang diri! Musim panas tidak memiliki salju musim dingin, orang yang berjalan melawan arus pasti hanya memiliki satu hasil!
Tahun demi tahun, hari demi hari terdengar aroma, segala hal demikian adanya, hujan dan angin mengamati bunga, bagaimana bisa tenang, mimpi yang tenang dan sederhana bertemu dengan diriku sendiri, hidup dan mati menghindari dunia. Masa depan yang dipaksakan, peristiwa yang tak berubah, mendengar angin dan hujan, mencari dan mencari, pergi ke mana, siapa yang menentukan hidupku! Jika bisa bertemu dengan diriku sendiri dalam mimpi, apakah itu awal dari ceritaku tentang hidup, atau mendengar ceritaku tentang seumur hidup dalam mimpi adalah akhirnya!
Tahun berlalu dengan waktu, niat mengiringi usia pergi, bangkit berjalan dengan angin, ketenangan meninggalkan manusia.
Aku seperti orang yang tak bernyawa menunggu kegelapan datang, dorongan untuk melarikan diri membuatku pergi jauh, dorongan yang sama menekan jiwaku hingga hancur berkeping-keping. Aku tidak ingin menanti hari esok, tidak ingin mendengar sepatah kata pun, mungkin menunggu dan diam yang tak jelas satu-satunya bukti bahwa aku bukan boneka yang diatur!
Jika tidak ada belenggu jiwa, aku pasti akan tersenyum, hanya saja belenggu ini begitu normal! Dan sangat lucu. Begitu kuat, namun sangat tak berarti!
Ketidakberartian yang terlihat di matamu ini, ditakdirkan membuatku sedih seumur hidup, aku diam untuk diriku sendiri, dan merasa lucu karena belenggu yang tak berarti ini!
Catatan acak?
Balasan (13)
Setetes Darah Pertama
Haha~
Atas (kiri)
Hmph, tidak membaca postingan orang lain~
Lima kill..
Ah, menggali berita~
、、、
Ini。。。。
Sial! OP……
Hehe~
...terdiam
Terdiam O__O
Lewat!
— Semua balasan dimuat —