Sepatu menari, sudah berlubang, retak, bersiap menyambut mimpi\Plester menutupi sakit, harus mengisi semua yang pucat\Keberanian dan ketakutan, aku harus pakai yang mana\Menghadapinya dengan senyuman seratus satu persen\Waktu penantian terasa berat, begitu berat sampai jarum jam tak bisa bergerak\Tak berbekas, dia selalu tak pernah hadir dalam hidupku\Aku sungguh ingin mengerti, siapa yang meletakkan dalam telapak tanganku\Kebahagiaan, tetaplah antre panjang\Ingin berjinjit mencari cinta\Keberadaan yang jauh\Aku tak sempat mengucapkan hai\Bayangan langsung memudar dari kerumunan\Hanya harapan berjinjit\Takut disia-siakan\Aku tak bisa meraih, tetap tersenyum sabar\Menunggu kau menoleh kembali\Suatu hari, kosong, patah, doa akhirnya berhasil\Angin datang membawa mimpi, tapi gagal karena sulit berkomunikasi\Aku akhirnya mengerti, bagaimana wajah-wajah manusia\Ketika memikirkan cinta, mata sepi langsung memerah\Ingin berjinjit mencari cinta\Keberadaan yang jauh\Aku tak sempat mengucapkan hai\Bayangan langsung memudar dari kerumunan\Hanya harapan berjinjit\Takut disia-siakan\Aku tak bisa meraih, tetap tersenyum sabar\Menunggu kau menoleh kembali\Kau akan menoleh kembali\Menoleh kembali\Ingin berjinjit mencari cinta\Keberadaan yang jauh\Aku tak sempat mengucapkan hai\Bayangan langsung memudar dari kerumunan\Hanya harapan berjinjit\Takut disia-siakan\Aku tak bisa meraih, tetap tersenyum sabar\Menunggu kau menoleh kembali
【Lagu Harian】Bercinta dengan Menjulang Jari Kaki
\Drama Lagu Tema\"Berjinjit Mencintai\" berasal dari album kompilasi Super Idol 5 Top 50 "SUPER! I DO!"
Sepatu menari, sudah berlubang, retak, bersiap menyambut mimpi\Plester menutupi sakit, harus mengisi semua yang pucat\Keberanian dan ketakutan, aku harus pakai yang mana\Menghadapinya dengan senyuman seratus satu persen\Waktu penantian terasa berat, begitu berat sampai jarum jam tak bisa bergerak\Tak berbekas, dia selalu tak pernah hadir dalam hidupku\Aku sungguh ingin mengerti, siapa yang meletakkan dalam telapak tanganku\Kebahagiaan, tetaplah antre panjang\Ingin berjinjit mencari cinta\Keberadaan yang jauh\Aku tak sempat mengucapkan hai\Bayangan langsung memudar dari kerumunan\Hanya harapan berjinjit\Takut disia-siakan\Aku tak bisa meraih, tetap tersenyum sabar\Menunggu kau menoleh kembali\Suatu hari, kosong, patah, doa akhirnya berhasil\Angin datang membawa mimpi, tapi gagal karena sulit berkomunikasi\Aku akhirnya mengerti, bagaimana wajah-wajah manusia\Ketika memikirkan cinta, mata sepi langsung memerah\Ingin berjinjit mencari cinta\Keberadaan yang jauh\Aku tak sempat mengucapkan hai\Bayangan langsung memudar dari kerumunan\Hanya harapan berjinjit\Takut disia-siakan\Aku tak bisa meraih, tetap tersenyum sabar\Menunggu kau menoleh kembali\Kau akan menoleh kembali\Menoleh kembali\Ingin berjinjit mencari cinta\Keberadaan yang jauh\Aku tak sempat mengucapkan hai\Bayangan langsung memudar dari kerumunan\Hanya harapan berjinjit\Takut disia-siakan\Aku tak bisa meraih, tetap tersenyum sabar\Menunggu kau menoleh kembali
Sepatu menari, sudah berlubang, retak, bersiap menyambut mimpi\Plester menutupi sakit, harus mengisi semua yang pucat\Keberanian dan ketakutan, aku harus pakai yang mana\Menghadapinya dengan senyuman seratus satu persen\Waktu penantian terasa berat, begitu berat sampai jarum jam tak bisa bergerak\Tak berbekas, dia selalu tak pernah hadir dalam hidupku\Aku sungguh ingin mengerti, siapa yang meletakkan dalam telapak tanganku\Kebahagiaan, tetaplah antre panjang\Ingin berjinjit mencari cinta\Keberadaan yang jauh\Aku tak sempat mengucapkan hai\Bayangan langsung memudar dari kerumunan\Hanya harapan berjinjit\Takut disia-siakan\Aku tak bisa meraih, tetap tersenyum sabar\Menunggu kau menoleh kembali\Suatu hari, kosong, patah, doa akhirnya berhasil\Angin datang membawa mimpi, tapi gagal karena sulit berkomunikasi\Aku akhirnya mengerti, bagaimana wajah-wajah manusia\Ketika memikirkan cinta, mata sepi langsung memerah\Ingin berjinjit mencari cinta\Keberadaan yang jauh\Aku tak sempat mengucapkan hai\Bayangan langsung memudar dari kerumunan\Hanya harapan berjinjit\Takut disia-siakan\Aku tak bisa meraih, tetap tersenyum sabar\Menunggu kau menoleh kembali\Kau akan menoleh kembali\Menoleh kembali\Ingin berjinjit mencari cinta\Keberadaan yang jauh\Aku tak sempat mengucapkan hai\Bayangan langsung memudar dari kerumunan\Hanya harapan berjinjit\Takut disia-siakan\Aku tak bisa meraih, tetap tersenyum sabar\Menunggu kau menoleh kembali
Balasan (3)
Tolong moderator hapus lampiran pertama, terima kasih,
Batuk batuk... sepatu ini bau
Sudah dihapus, terima kasih kepada moderator tertentu
— Semua balasan dimuat —