001 Hari Pertama Sekolah
Untuk transfer sekolah yang dipaksakan kali ini, saya tidak memiliki keberatan sama sekali, bahkan agak menantikannya. Meskipun lingkungan berubah dan orangnya juga berbeda, saya tetap tidak keberatan.
Hari masuk sekolah adalah 31 Agustus, pada hari itu saya bangun sangat pagi. Mungkin karena dua liburan tanpa PR setelah lulus membuat saya sedikit bosan, atau mungkin karena menantikan kehidupan di SMP, sehingga semangat saya sangat baik. Saya mengikuti kakek di belakang, penuh rasa ingin tahu melihat lingkungan pedesaan yang asing ini. Mungkin karena terlalu lama tinggal di kota, sehingga pemahaman saya membuat saya mengira bahwa hanya di taman dan jalur hijau saja hijau seperti ini bisa ditemukan, padahal hijau seperti ini bisa terlihat di mana-mana di pedesaan. Beberapa burung gereja terus berkicau di atas pohon murbei di pinggir tanjakan sawah, begitu melihat ada orang lewat mereka langsung terbang berserakan. Di sawah pinggir jalan tidak ada tanaman, hanya beberapa bulir padi. Musim panen sudah lewat, hanya sedikit sawah kering yang masih ada petani yang menanam.
Karena hujan musim dingin jauh lebih sedikit dibanding musim panas, jalan tidak selempung seperti yang digambarkan oleh kakak di telepon sebelumnya. Jalan menuju sekolah sangat panjang, lebih dari setengah jam baru sampai ke sekolah. Hal ini tidak bisa dibayangkan oleh saya yang sebelumnya tinggal di kota, sebelumnya saya hanya membutuhkan 5~6 menit untuk sampai sekolah. Di sekolah sebelumnya, hampir semua anak yang harus berjalan lebih dari 15 menit biasanya memilih tinggal di asrama. Tapi di sini saya tidak punya pilihan, karena sekolah ini tidak memiliki asrama.
Setelah berjalan lebih dari setengah jam akhirnya sampai di sekolah, sekolah tidak sebagus yang saya bayangkan, namun sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan sekolah saya sebelumnya di kota. Sekolah memiliki dua bangunan, satu memanjang dan satu melintang, pintu masuk berada di sisi memanjang sekolah. Setelah masuk, terlihat sebuah kebun bunga kecil, di kebun itu ditanam beberapa bunga yang tidak saya kenal. Kebun bunga ini panjangnya sekitar lima hingga enam meter, tetapi lebarnya kurang dari setengah meter, meskipun ini sudah menjadi salah satu sedikit tempat hijau di sekolah. Di depan kebun bunga ada lapangan. Lapangan sangat kecil, hanya memiliki satu lintasan lari lebih dari 100 meter dan dua lapangan basket di dalam lintasan. Lintasan ini bukan lintasan karet sebagaimana yang biasa saya lihat dulu, melainkan lintasan aspal. Dari penampilannya, lintasan ini tampak sudah cukup lama, batu-batunya sudah berserakan. Di sebelah kiri lintasan terdapat ruang kelas SMP. Lantai tempat pintu masuk berada digunakan untuk SD, sedangkan sebelah kiri lintasan adalah tempat SMP. Kelas tujuh berada di lantai pertama bangunan ini, kantor berada di posisi pusat lantai pertama.Kakek dan aku berjalan ke pintu kantor. Mungkin karena kami datang terlalu awal, hanya ada satu guru dan beberapa teman sekelas di kantor. Guru ini adalah wali kelas kami, bermarga Wang. Soal namanya, aku tidak tahu namanya. Guru Wang cukup kurus, dan tingginya 1,70 meter membuatku terlihat sangat tinggi. Wajahnya bermata kotak, dan meskipun masih muda, ada keriput. Kakakku bilang wali kelasnya juga Guru Wang, satu-satunya guru bahasa Inggris di kelas kami, jadi dibandingkan guru lain, dia terlihat lebih tua. Guru Wang belum berusia 40 tahun, tapi rambutnya putih. "Guru Wang, aku membawa cucuku untuk mendaftar." Kakek berkata dengan suara sederhana. Aku tidak berkata apa-apa, hanya diam-diam mengamati. "Oh, ini cucumu." "Guru Wang menatapku dan berkata dengan suara serak.
Catatan Cinta
Balasan (5)
Terima kasih atas semua saran yang telah diberikan, saya akan berusaha memperbaikinya. Tapi untuk meminta pendapat, saya tetap ingin bertanya, apakah lebih baik menggunakan orang pertama atau orang ketiga? Jika menggunakan orang ketiga lebih baik, maka nanti akan menggunakan orang ketiga.
Dan gunakanlah, utamakan orang ketiga
Belum lihat tapi sudah mendukung
Meninggalkan nama..
Melayang lewat,
— Semua balasan dimuat —